Tampilkan postingan dengan label Gie. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gie. Tampilkan semua postingan

Gie dia telah wafat diatas tanah tertinggi di jawa

Posted: Senin, 29 Agustus 2011 by Fathurohman Alfiandi in Label:
0

Apa hubungan antara Soe Hok Gie dan Puncak Mahameru?
Dan apa yang berkaitan antara keduanya?
Soe Hok Gie dan Mahameru adalah dua legenda Indonesia, sedangkan hubungan antara keduanya?
Soe Hok Gie wafat di Mahameru saat melakukan pendakian pada 18 Desember 1969 karena menghirup asap beracun gunung tersebut
Soe Hok Gie dilahirkan pada tanggal 17 Desember 1942. Dia adalah sosok aktifis yang sangat aktif pada masanya. Sebuah karya catatan hariannya yang berjudul Soe Hok Gie: Catatan Seorang Demonstran setebal 494 halaman oleh LP3ES diterbitkan pada tahun 1983. Soe Hok Gie tercatat sebagai mahasiswa Universitas Indonesia dan juga merupakan salah satu pendiri Mapala UI yang salah satu kegiatan terpenting dalam organisasi pecinta alam tersebut adalah mendaki gunung. Gie juga tercatat menjadi pemimpin Mapala UI untuk misi pendakian Gunung Slamet, 3.442m.

Kemudian pada 16 Desember 1969, Gie bersama Mapala UI berencana melakukan misi pendakian ke Gunung Mahameru (Semeru) yang mempunyai ketinggian 3.676m. Banyak sekali rekan-rekannya yang menanyakan kenapa ingin melakukan misi tersebut. Gie pun menjelaskan kepada rekan-rekannya tesebut :
“Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”
Sebelum berangkat, Gie sepertinya mempunyai firasat tentang dirinya dan karena itu dia menuliskan catatannya :
“Saya tak tahu apa yang terjadi dengan diri saya. Setelah saya mendengar kematian Kian Fong dari Arief hari Minggu yang lalu. Saya juga punya perasaan untuk selalu ingat pada kematian. Saya ingin mengobrol-ngobrol pamit sebelum ke semeru. Dengan Maria, Rina dan http://jabier.blogsome.com/2005/06/24/soe-hok-gie/juga ingin membuat acara yang intim dengan Sunarti. Saya kira ini adalah pengaruh atas kematian Kian Fong yang begitu aneh dan begitu cepat.”

Biografi Soe Hok Gie ( 1942-1969)

Posted: Minggu, 28 Agustus 2011 by Fathurohman Alfiandi in Label:
0

Soe Hok Gie adalah Orang keturunan China yang lahir pada 17 Desember 1942. Seorang putra dari pasangan Soe Lie Pit —seorang novelis— dengan Nio Hoe An. Soe Hok Gie adalah anak keempat dari lima bersaudara keluarga Soe Lie Piet alias Salam Sutrawan, Soe Hok Gie merupakan adik dari Soe Hok Djie yang juga dikenal dengan nama Arief Budiman. Sejak masih sekolah, Soe Hok Gie dan Soe Hok Djin sudah sering mengunjungi perpustakaan umum dan beberapa taman bacaan di pinggir-pinggir jalan di Jakarta.


Sejak masih sekolah, Soe Hok Gie dan Soe Hok Djin sudah sering mengunjungi perpustakaan umum dan beberapa taman bacaan di pinggir-pinggir jalan di Jakarta. Menurut seseorang peneliti, sejak masih Sekolah Dasar (SD), Soe Hok Gie bahkan sudah membaca karya-karya sastra yang serius, seperti karya Pramoedya Ananta Toer. Mungkin karena Ayahnya juga seorang penulis, sehingga tak heran jika dia begitu dekat dengan sastra.

Sesudah lulus SD, kakak beradik itu memilih sekolah yang berbeda, Hok Djin (Arief Budiman) memilih masuk Kanisius, sementara Soe Hok Gie memilih sekolah di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Strada di daerah Gambir. Konon, ketika duduk di bangku ini, ia mendapatkan salinan kumpulan cerpen Pramoedya: “Cerita dari Blora” —bukankah cerpen Pram termasuk langka pada saat itu?

Pada waktu kelas dua di sekolah menangah ini, prestasi Soe Hok Gie buruk. Bahkan ia diharuskan untuk mengulang. Tapi apa reaksi Soe Hok Gie? Ia tidak mau mengulang, ia merasa diperlakukan tidak adil. Akhirnya, ia lebih memilih pindah sekolah dari pada harus duduk lebih lama di bangku sekolah. Sebuah sekolah Kristen Protestan mengizinkan ia masuk ke kelas tiga, tanpa mengulang.

Selepas dari SMP, ia berhasil masuk ke Sekolah Menengan Atas (SMA) Kanisius jurusan sastra. Sedang kakaknya, Hok Djin, juga melanjutkan di sekolah yang sama, tetapi lain jurusan, yakni ilmu alam.

Selama di SMA inilah minat Soe Hok Gie pada sastra makin mendalam, dan sekaligus dia mulai tertarik pada ilmu sejarah. Selain itu, kesadaran berpolitiknya mulai bangkit. Dari sinilah, awal pencatatan perjalanannya yang menarik itu; tulisan yang tajam dan penuh kritik.

Ada hal baik yang diukurnya selama menempuh pendidikan di SMA, Soe Hok Gie dan sang kakak berhasil lulus dengan nilai tinggi. Kemuidan kakak beradik ini melanjutkan ke Universitas Indonesia. Soe Hok Gie memilih ke fakultas sastra jurusan sejarah , sedangkan Hok Djin masuk ke fakultas psikologi.

puisi puisi di film Gie catatan seorang demonstran

Posted: by Fathurohman Alfiandi in Label:
0

puisi terakhir soe hok gie


Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke mekkah, 
Aada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di wiraza, 
Tetapi aku ingin menghabiskan waktu ku disisi mu sayang ku….
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu 
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah mandala wangi 


Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di danang 
Ada bayi-bayi yang lapar di Biafra 
Tapi aku ingin mati disisi mu manisku 
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya 
Tentang tujuan hidup yang tidak satu setan pun tahu 


Mari sini sayangngku 
Kalian yang pernah mesra Yang pernah baik dan simpati padaku 
Tegaklah ke langit luas Atau awan yang menang 
 Kita tak pernah menanamkan apa-apa 
Kita takkan pernah kehilangan apa-apa 


Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahir 
Yang kedua dilahirkan tapi mati muda 
Dan yang tersial adalah berumur tua 
Berbahagialah mereka yang mati muda 
Mahluk kecil kembalilah dari tiada ke tiada 
Berbahagialah dalam ketiadaanmu 

Sebuah Tanya

 


akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa 
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
apakah kau masih berbicara selembut dahulu?
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
sambil membenarkan letak leher kemejaku

(kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, 
lembah mendala wangi
kau dan aku tegak berdiri, 
melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin)

"apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
ketika ku dekap kau, dekaplah lebih mesra, lebih dekat”

(lampu-lampu berkelipan di jakarta yang sepi,
kota kita berdua, 
yang tua dan terlena dalam mimpinya. 
kau dan aku berbicara.
tanpa kata, tanpa suara
ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita)

apakah kau masih akan berkata
kudengar derap jantungmu. 
kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta?


(haripun menjadi malam
kulihat semuanya menjadi muram
wajah2 yang tidak kita kenal berbicara dalam bahasa yang tidak kita mengerti
seperti kabut pagi itu)

“manisku, aku akan jalan terus membawa kenangan-kenangan 
dan harapan-harapan bersama hidup yang begitu biru”

Andai Kau masih disini , hey bang Soe Hok gie !

Posted: Rabu, 27 April 2011 by Fathurohman Alfiandi in Label:
0

ntah aku kenapa , hanya terdiam dan tertegun melihat sosok tokoh seperti mu , aku hanya mampu menelan ludah , sedikit bergeming dan hanya meneteskan air mata haru .
hey pahlawan kami , dimana kau sekarang , mungkin kau sedang bercengkramah dengan alam , sedang duduk termenung di tengah lembah mandala wangi , lembah yang amat misterius dengan segudang pertaanyaan.
aku masih ingin bertanya padamu , andai kau masih ada , namun yang tertinggal cuman nama harummu , yang terkenang dalam ingatan sejarah , sekali waktu aku ingin berjumpa , menanykan kabarmu yang kubanggakan , aku ingin mengadu kepadamu , andai kau saat ini ada di sampingku , aku akan berkata " lihatlah bang lihat lihat dengan jelas indonesia mu sekarang , yang berdiri di tengah demokrasi yang rapuh , akarnya yang lemah dan tergerogoti oleh korupsi , kesewenang wenangan dan uang yang membutakan mereka para pemegang kuasa" hey bang soe hok gie" , lihatlah sang garuda masih menangis meneteskan air mata kepiluan , lihat dan dengar rintihannya , masih banyak di jalanan , orang - orang kelaparan , orang orang yang makan makanan sampah , lihat lah bang kebodohan ini masih berlanjut sampai sekarang ,
Aku masih tertegun disini , yang sangat menyesal kehilangan tokoh sepertimu , kemana kah di rimu sekarang , kami rakyat marjinal yang lemah , tak punya kuasa dan kecil terinjak , masih membutuhkan mu , kemana kau bang , saat kami kini mengharapkan kata kata tajam mu , kemana kemana ? apa kau sedang bersenang senang di lembah mandala wangi , atau sedang duduk melamun dengan tubuh kaku mu di selimuti asap asap gas beracun , di atas tanah tertinggi di pulau jawa
Andai kau masih disini , membantu kami para marjinalis yang tertindas oleh kekuasaan para borjuis , kami ingin perlihatkan , betapa kejam dunia , memang benar kata mu " nasib terbaik adalah tidak dilahirkan , yang kedua adalah mati muda , layaknya dirimu sekarang , yang telah bercengkramah dengan hawa hawa gaib , dan yang sangat sial adalah mati , tua , mungkin karena dia telah merasakan banyak kepahitan dan kebobrokan negeri kita "

aku ingin tahu bang ? buat apa kita sebenarnya dilahirkan ? namun kau cepat sekali berpulang , sebelum kedua mata ini melihat wujud mu , sebelum telinga ini mendengar suara keras mu , aku ingin sepertimu " Soe Hok Gie " seperti mu , iya benar

aku ingin melihat mu berkata , mengkritisi apa yang telah terjadi sekarang ini , aku ingin mendengar sura lantang mu , tentang makna politik sekarang ini , sudah 13 tahun negeri ini mengalami reformasi , tapi tetap begini begini saja , benar kata mu , mereka yang tertekan hanya ber akting merintih dan mengharapkan belas kasih , sesudahnya berkuasa , dia semena mena dengan jabatannya
Aku ingin seperti mu , berdiri tegak di tengah gelombang pasang lumpur hitam , aku ingin seperti mu , terus melawan kebobrokan , hingga jiwa telah pergi dari raganya
sekali lagi AKU INGIN SEPERTI MU  , hey cina kecil yang berani!

Aku ingin seperti mu Gie

Posted: by Fathurohman Alfiandi in Label:
0

sebuah inspirasi dari GIE

Ini kala , sebuah cerita , tentang kehidupan seseorang , cinta , teman , sahabat , keseharian , alam dan semua kejadian yang menyenangkan , menyedihkan , tawa tawa riang , luka luka muram dan sebuah kebersaman

kadang alam enggan menyapa , mungkin karena manusia nya yang durhaka , kadang kita bertanya buat apa ada bencana , mungkin sebab kedurhakaan manusia , cinta selalu terkait tentang kebahagian , kesedihan dan kegalauan jiwa , seriang aku bertanya "dimana kah ada cinta , aku belum pernah menemui nya , yang selama ini kutemui bukanlah cinta tapi hanya nafsu belaka " hmm ,  telah kupelajari makna cinta selama kurang lebih 18 tahun , selama nafas terjaga di dunia , cinta hanya sebagian dari hiasan dunia saja , kadang sahabat pun terasa lebih hangat dari cinta , makna nya mungkin lebih berarti . . . namun sahabat pun tak kupunya , dia hilang entah kemana? mungkin telah tertelan luka yang sangat dalam , dan sekarang hanya timbul kebencian .

ini bukan masalah hati saja , Indonesia juga sebuah masalah , masalah politiknya yang amburadul , benar kata satu tokoh dalam sebuah film " GIE" : politik itu tai kucing , awal kita berkata di bawah sangatlah bertolak belakang saat kita telah mendapatkan apa itu jabatan , tentu saja , politik adalah suatu permasalahan yang sangat rumit di dunia , ntah dari mana mahklu ini muncul dan mengacaukan kebijakan yang ada , politik sesengguhnya dia bersih , tak seperti sekarang ini yang hitam legam penuh dosa dan pembodohan para pemegang kuasa . bukanlah politiknya atau sistemnya yang salah , namun orang - orang yang menjalankan sistem dalam politiknya yang kurang mengetahui betul tentang keimanan dan kebijakan , hanya bermodal omong besar dan tampang saja . saya sangat kagum pada kata - kata seorang tokoh "soe hok gie" kisahnya sungguh tragis dan menyedihkan , kekritisan lah yang membangun kehidupannya , berawal dari sebuah kemampuan otak yang pintar dan kesadaaran atas pembodohan politik pemerintah , dia begitu tegas , lantang membicarakan kenyataan , membombardir keadaan dengan kata kata tajam , mmatanya tajam , menatap dan menghancurkan . hidup di zaman pembodohan akhlak , satu kata dia yang paling bermakan " lebih bik terasingkan dari pada mengalah kepada kemunafikan " sungguh kasihan seorang tokoh yang jumawan , di tengah pembodohan filsafat filsafat jabatan .
mungkin hanya alam , yang mampu mengerti kehidupan yang mengerti kebanaran tentang kerusakan moral para manusia , sungguh saya sangat terharuh pada sebuah kisa seorang Gie , seorang pendemonstran yang gigih memperjuangkan keadilan , " MAPALA " ini dia sebuah organisasi mahasiswa pecinta alam , tempat lahirnya persahabatan , cinta dan sebuah rasa hormat kepada alam , gunung adalah temtat dia terbang menghirup udara udara segar , merasakan tantangan kehidupan , gunung sahabat baginya tapi gunung jugalah seseorang yang menghentikan nafasnya , ntah bagaimana kektika kita menanjak dan mendaki gunung , sungguh sangat mempo darah , berdegup kencang andrenalin , semeru dengan puncaknya maha meru sebuah gunung tertinggi di pulau jawa dan kemistisan yang ada , sebuah misteri terbunuhnya seorang kritikus dan pendemonstran " SOE HOK GIE" sebuah nama yang mengagumkan , membuat semangat mengobar

Gie seorang pemikir kritis , dengan jiwa semangat yang realistis , seorang yang lugu akan cinta dengan kata kata yang tajam , mengikiskan kenyataan bagi para orang munafik , aku ingin seperti dia , berdiri di tengah tidak memandang sebelah mata , dengan tegas menolak apa yang tidak perlu kita ambil , dengan bijak berkata apa yang mesti kita ucapkan , aku ingin seperti dia , tak pantang menyerah membeberkan kata adil adil dan adil , bukan hanya sekedar kata mulut saja , dia bertindak , maha meru memanggilnya , karena rasa sayang sang meru atas ketimpangannya di masa itu dimana orang orang buta akan ke nyataan , buta akan keadilan , maha meru memanggilnya agar dia terselamatkan dari orang orang hina masa itu , aku ingin seperti soe hok gie dengan latar belakang yang mengagumkan .


aku ingin seperti Gie
aku ingin seperti dirimu
berkata keras penuh makna
melawan arus ketimpangan
menerjang dengan kata yang tajam
berteriak berseru meminta keadilan

aku ingin sepertimu
tak seperti yang lainnya
hanya terbawa arus kebiasaan
bukan kebaoikan yang mesti dibiasakan
aku ingin sepertimu
briliant dan penuh dengan obsesi
yakin akan hidup tegak dan tak berberai

aku ingin seperti dia , lantang keras dan berwibawa
tak satu pun orang berani menghina

aku ingin seperti dia
kata dan tindaknya sebanding
satu arah dan tidak bermunafik
aku ingin seperti dia

tak enggan akan mereka yang berkuasa
kecil namun mematikan
mengendus endus kebikakan
aku ingin seperti mu hai Soe
seperti pemikiran mu ,

mungkin kita sama
terlahir dalam ketimpangan hidup
dalam kerasnya perlawanan keadailan
mungkin kita sama
lugu dalam cinta

aku ingin sepertimu
sang pecinta kebijakan
alam dan sekitar kau jadikan teman

aku ini sepertimu
mungkin kita berbeda dalam latar belakang
tapi aku ingin seperti mu
berdiri ditenganh terjangan kenyataan
melawan maju , maju dan enggan untuk mundur

aku ingin bersamu bersama alam ,
bercerita tentang sejarah dunia , sejarah indonesia
, sejarah nenek moyang dan semua kebenran yang ada , aku ingin sepertimu , yang ramah terhadap semua , yang ramah terhadap dia ,
aku ingin sepertimu ,
terus maju hingga akhir hayatnya


cinta memang aneh , kadang dia tak bersahabat , abstrak dan tak berbentuk , cinta kadang hina namun itu bukanlah cinta yang sesungguhnya , cinta datang meanwarkan rasa , dan dia pergi entah karena status saja , aku ingin sepetimu berdiri tegak di tengah rapuhnya pondasi negeri ini ,
walau cinta tak kunjung tiba , dia enggan mengok dan kadang cuek atas rasa yang ada , sepertimu gie , kau terpinggirkan , hanya karena sebuah komentar dan kritik yang nyata atas kebenaran yang terjadi

seseorang membanggakanmu diluar sana , kamu benar " takdir yang terbaik adalah tidak dilahirkan , yang kedua adalah mati muda yang yang tersial adalah mati tua" mungkin karena kotornya negri ini , hingga kau berkata seperti itu .

aku ingin sepertimu , aku ingin mengikti jejak mu sekolah di sebuah universitas yang bersejarah , yang melahirkan seseorang seperti dirimu , yah benar , UNIVERSITAS INDONESIA - - - > sebuah sejarah telah lahir disini , aku haus akan sejarah , aku haus akn cerita cerita heroik pahlawan yang ada , aku ingin berada disana setidaknya mampu merasakan keadaan yang sama seperti dulu , saat kau masih disana :)